and i guess, it was all my fault all alone.
Sanzu tersenyum kikuk ketika ia melangkah keluar dari kamarnya dan menemukan sosok Kakuchou Hitto tengah terduduk di kursi depan. Menyadari ada kehadiran lain yang mengiringinya, Kakuchou segera mengalihkan pandang pada sumber derap suara. Tubuh tinggi itu secara refleks bangkit dari kursi, mengambil langkah mendekat demi mengikis sisa-sisa ruang yang menengahi dirinya dan Sanzu.
“Eh, syukur lo ada di sini,” Sanzu tak tahu apa yang seharusnya ia lakukan ketika Kakuchou menarik tubuhnya; memberikan pelukan singkat disertai tepukan pada bahu. “Gue ada temen ngobrol lah paling enggak sambil nungguin Rindou bersih-bersih dulu. Maklum, rada lama dia kalo mandi.”
Sanzu tahu. Ia sudah tahu. Rindou memang cenderung menghabiskan waktu lebih panjang di kamar mandi. Katanya dulu, “Aku kadang emang suka bengong aja di kamar mandi. Apa lagi kalo sambil ngeguyur kepala. Sambil gosok badan, sambil mikirin ini itu. Makanya lama.”
Rasanya, kehadiran Rindou sejak beberapa hari lalu lantas menarik satu per satu pecahan memoarnya yang tertimbun. Menyatukan masing-masing dari mereka seumpama kepingan puzzle yang terpecah-belah.
“Ngapain sampe nungguin emang?” Sanzu menggaruk tengkuk belakangnya. Ia ragu-ragu menerima uluran segelas es kopi susu yang diajukan oleh Kakuchou. Gelas plastik itu dibanjiri oleh bulir-bulir keringat es yang sudah mencair, lantas berpadu dengan peluh yang menyeruak keluar dari kulit telapak tangan Sanzu sejak tadi. “Mau lanjut jalan-jalan lagi nanti? Semacam nge-date gitu?”
Kakuchou tertawa singkat seraya kembali menghempaskan bokongnya pada salah satu kursi. Sanzu pelan-pelan menyusul, ikut mendudukkan dirinya pada kursi di sebelah Kakuchou. “Kalo nge-date mah curi-curi aja kalo ada waktu luang. Gak asik kalo cuman jalan tiga puluh menit,” ujar pemuda itu sembari menyeruput es kopi miliknya. “Ini mau nganterin Rindou ke tempat abangnya. Tapi anaknya mau bersih-bersih dulu gara-gara ada kelas dari pagi, gerah kata dia.”
Penjelasan Kakuchou saat itu berhasil menghentikan sebagian besar kerja sel-sel tubuh Sanzu—menyisakan pemuda dengan surai merah muda itu tercenung dalam bibir yang terkatup rapat. “Rindou... punya abang?”
Sanzu kira, sepatutnya ia yang merasa paling terkejut di sini. Hampir dua tahun keduanya bersama sebagai sepasang kekasih; dan selama dua tahun itu pula, ia tidak pernah mengetahui jika mantan kekasihnya memiliki saudara lain. Mengetahui fakta bahwa... Kakuchou kini mengetahui satu hal mengenai Rindou yang tak pernah Sanzu ketahui lantas mengundang sepercik ngilu yang merekah sempit di dadanya.
“Loh, Rindou gak pernah cerita emang?”
Tapi nyatanya, Kakuchou justru terlihat sepuluh kali jauh lebih terkejut. Seolah perkara tersebut bukanlah rahasia umum. Dan raut terkejut itu jelas saja meninggalkan perih yang menyebar kian sporadis di relung Sanzu.
“Enggak, sori. Rindou gak pernah cerita soalnya. Jadi gue gak tau kalau dia punya abang.”
“Oalah, ada abang dia, tujuh tahun lebih tua,” Kakuchou menjelaskan dengan santai. Seakan kenyataan tersebut sudah terukir dengan pena permanen di kepalanya. Seakan dirinya mengenali sosok Rindou dengan begitu baik. “Namanya Ran, biasa dipanggil bang Ran sama gue atau sama Rindou. Orangnya asik, baik, kocak banget. Beda ya ama Rindou yang agak kaku sama dingin.”
Sanzu tidak tahu harus bagaimana dirinya membayangkan sosok Ran tersebut. Apakah wajahnya terlihat mirip dengan Rindou? Rindou versi lebih hangat? Rindou dengan versi yang lebih banyak bicara dan tidak kaku? Bagaimana dengan gaya rambutnya? Pendek klimis, gondrong sebahu, atau justru seperti boneka annabelle yang panjang dan dikepang dua? Oke, mungkin yang terakhir sedikit berlebihan. Sanzu diam-diam menampar pipinya sendiri.
“Deket ya berarti mereka,” Sanzu menarik kesimpulan. “Sampe mau main ke rumah abangnya. Abangnya udah nikah berarti? Kan beda tujuh tahun, tuh. Jauh juga. Udah ada istri sama anak lagi?”
Rentetan pertanyaan itu hanya dibalas dengan diam. Diam yang begitu panjang sehingga kini justru Sanzu yang dilimpahkan oleh tanda tanya di kepala serta benaknya. Apa pertanyaannya terlalu banyak sehingga Kakuchou kesulitan untuk menjawab seluruhnya? Atau pertanyaannya justru terlalu—
“Rindou mau nemuin abangnya ke rumah sakit.”
“Hah?”
“Abangnya Rindou sakit,” Kakuchou menjawab final dari seluruh teka-teki yang tiba-tiba menghampiri diri Sanzu. “Dari 2019, seinget gue. Awalnya cuman benigna gitu. Tumor jinak di liver. Udah sempet ada pengangkatan tumor sama perawatan. Katanya sih udah bersih, jadi abangnya bisa balik berkegiatan kayak biasa. Tapi di awal 2020 tau-tau pas diperiksa lagi, ternyata malah tumbuh lagi terus berubah jadi maligna.”
Kening Sanzu mengernyit kecil. Berapa banyak lagi hal yang telah Rindou sembunyikan darinya? Berapa banyak lagi hal yang tak ia ketahui mengenai kondisi Rindou? Mengapa kini ia justru merasa terpojokkan oleh pikirannya sendiri, menyadari bahwa dirinya justru tak pernah mengetahui apapun mengenai diri Rindou? Terlebih, dua rentang waktu yang disebutkan oleh Kakuchou—2019 dan awal 2020. Keduanya masih bersama saat itu. Mereka masih bersama, masih menyandang status sebagai seorang kekasih, keduanya masih—
Ah.
Awal 2020, ya.
Hubungan keduanya merenggang pada bulan Januari 2020.
Hubungan keduanya jadi dipenuhi oleh begitu banyak jarak semenjak Rindou jadi sering berkelakar untuk menolak ajakan pulang bersama dari Sanzu. Sebab entah bagaimana, pemuda itu tiba-tiba kehabisan waktu untuk dihabiskan bersama Sanzu. Tidak ada lagi kencan singkat seusai pulang sekolah, tidak ada lagi sesi belajar bersama di hari pekan, tidak ada lagi kegiatan diam-diam bertemu pada pukul sepuluh malam di depan komplek rumah Rindou untuk sekedar berpelukan atau membawakan martabak.
Karena tiba-tiba Rindou jadi begitu sulit untuk dihubungi dan Sanzu muak dengan segala kekosongan yang mengisi hari-hari mereka.
Sanzu pikir, Rindou terlalu sibuk menyiapkan diri untuk ujian masuk ke universitas. Dan ia tahu, orang seserius Rindou yang serba matang dalam merencanakan masa depannya tidak akan pernah bisa cocok dengan orang serba berantakan seperti Sanzu yang bahkan tak pernah tahu ke mana titik temu dari segala perjalanan hidupnya.
Jadi malam itu, tujuh Februari 2020, pukul sebelas malam; Sanzu memilih untuk mengakhiri hubungan keduanya melalui pesan gawai.
Sanzu tidak pernah tahu kalau Rindou memiliki alasan besar di balik segala hal yang membuat dirinya serba kebingungan saat itu.
“Sebenernya gue sedih banget setiap ngeliat Rindou ngejenguk abangnya,” Kakuchou melanjutkan ceritanya dan Sanzu mencoba mendengarkan secara atentif. “Keluarga gue udah kenal sama keluarga Haitani dari gue sama Rindou masih kecil. Gue tau gimana deketnya Rindou sama abangnya. Bang Ran ini masuk jurusan hukum dan Rindou juga sama-sama pengen masuk hukum. Dia belajar terus biar nilai dia tinggi, biar bisa keterima SNMPTN. Tapi dia gak lupa nyicil buat ujian masuk universitas juga. Tapi semenjak bang Ran ketauan punya tumor ganas, dia sampe lupa belajar. Kalo diajak ngobrol juga jadi suka gak fokus sendiri. Terus ya gitu— hasilnya dia gak keterima di pilihan pertama, hukum. Biar dia bilang gapapa masuk kesos, tapi tiap dia lewat fakultas hukum, kadang dia suka berhenti sendiri dulu.”
Sanzu memijat pelipisnya perlahan. Seluruh penjelasan itu. Seluruh penjelasan itu berhasil menimbulkan migrain yang luar biasa di kepalanya. Bagaimana pemuda itu kemarin malam menjelaskan bahwa dirinya baik-baik saja... kini terasa seperti sebuah kebohongan besar. Rindou tidak pernah baik-baik saja. Tahun itu, tahun 2020—tahun tersebut berjalan seperti neraka yang mengurungnya tanpa pernah memberikan celah untuk kabur.
Dan Sanzu justru hadir hanya untuk semakin merekahkan luka yang masih basah. Membubuhinya dengan garam agar perihnya semakin abadi.
Rasanya tidak adil karena Sanzu berhasil menjalani satu setengah tahun hidupnya tanpa Rindou hanya dengan sebatas patah hati atas cerita cinta yang selesai. Sedangkan Rindou menjalani harinya dengan segala beban yang enggan untuk memberikannya barang satu menit untuk mengambil napas.
Mungkin ini memang salahnya sejak awal.
Ketika Sanzu hendak mengangkat suara, perbincangan keduanya perlu teralihkan oleh pintu kamar Rindou yang terbuka. Menghadirkan pemuda pemilik surai ungu yang kini memandangi kedua entitas di depan kamarnya dengan tote bag yang menggantung di lengan kiri. Rambutnya masih basah dan lepek, membuat tetesan air mengalir membasahi leher, pundak, bahkan hingga jatuh membasahi keramik.
“Udah selesai mandinya, sayang?” Kakuchou dengan begitu sigap bangkit dari kursinya dan menghampiri Rindou. “Ini kok rambutnya masih basah banget? Gak dikeringin dulu? Pada netes ke baju tuh, nanti malah sakit kamunya.”
Jawaban yang diberikan Rindou hanya gelengan pelan. “Gak keburu kalo dikeringin. Takut kemaleman.”
Sanzu mengalihkan pandangannya singkat, menatap objek apapun yang mampu ia pandangi—apapun itu, asal bukan sinematik kala Kakuchou melepaskan jaketnya dan meletakannya di kepala Rindou.
“Yaudah, Zu, gue sama Rindou mau pergi dulu. Thanks banget ya udah nemenin gue di sini,” Kakuchou menepuk pelan pundak Sanzu dengan senyum sumringah yang terpeta di wajahnya. “Ayo, sayang. Udah mau jam tujuh.”
Kakuchou melingkarkan jemarinya pada pergelangan tangan Rindou, menuntun pemuda itu untuk melangkah keluar. Namun ada sesuatu yang menahan langkah Rindou. Membuat pemuda dengan surai ungu itu kini stagnan di hadapan Sanzu tanpa mengucap kata. Manik serupa lembayung senjanya terarah pada segelas kopi yang masih tecengkram erat pada ruas jemari Sanzu.
Lalu di sepersekon setelahnya, Rindou segera merogoh tote bag-nya; mengeluarkan satu kotak susu pisang yang ia letakkan begitu saja di atas pangkuan Sanzu sebelum melangkah keluar bersama Kakuchou.
Sebelum presensinya lenyap dimakan oleh jarak dan ruang. ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀
⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ “Kamu kenapa suka minum kopi mulu?”
Rindou menilik singkat ke arah Sanzu yang tengah menyandarkan kepalanya pada permukaan meja. Nampak tidak tertarik dengan tumpukan buku soal yang terbuka dan sejumlah buku catatan Rindou yang seharusnya ia salin.
Tak ada jawaban langsung yang keluar dari belah bibir Rindou. Pemuda itu hanya kembali mengarahkan fokusnya pada tugasnya, menyalin beberapa jawaban dari buku paket.
“Rin? Kok aku gak dijawab?”
“Berisik, ah. Lagi di perpustakaan juga,” Rindou menggerutu singkat. Obsidiannya mencuri arah pada sosok Sanzu yang kini mulai memasang wajah masam. Ada helaan singkat yang mengalir keluar setelahnya. “Biar gak ngantuk. Makanya minum kopi. Kenapa?”
“Aku gak suka minum kopi tau,” Sanzu berceloteh singkat meski tak ada yang benar-benar ingin tahu mengenai fakta tersebut. Coret, Rindou. Pemuda itu tak bertanya banyak. Namun di tengah kesibukannya, sepasang telinga milik Rindou begitu penuh perhatian menangkap seluruh racauan Sanzu. “Soalnya pait. Ada kopi susu sih yang gak pait-pait amat. Tapi tetep aja, kalau abis minum kopi perut aku suka mules.”
“Kalau susu pisang gimana?”
“Kalau susu pisang bisa, laaah. Aku bukan semacam lactose-intolerant juga, jadi kalo minum susu sampe dua galon juga bisa.”
“Lebay banget.”
Sanzu merengut singkat. Semestinya setelah beberapa bulan keduanya berpacaran, Sanzu bisa terbiasa dengan jawaban singkat dan pedas yang Rindou berikan. Namun tetap saja, ada kalanya reaksi Rindou yang terlalu datar membuat wajahnya lantas berubah menjadi masam.
Menyadari perubahan ekspresi kekasihnya untuk yang kesekian kalinya, Rindou mendesau berat seraya mengambil ransel hitam miliknya. Pemuda itu merogoh sesuatu; berhasil membuat Sanzu kini mengangkat kepala dari permukaan meja, seakan ia turut penasaran akan apa yang kini kekasihnya tengah coba ambil.
Raut penasaran tersebut kian mengernyit penuh tanya ketika Rindou berhasil mengeluarkan satu kotak susu pisang dari ranselnya. Kotak susu tersebut diarahkan begitu saja di hadapan Sanzu.
“Buat aku?”
“Aku beli di kantin tadi. Tapi lupa gak keminum. Takut mubazir.”
Pada akhirnya, satu kotak susu pisang tersebut dihabiskan bersama oleh Sanzu dan Rindou melalui sedotan yang sama.